Selasa, 22 Maret 2016

OKI (Organisasi Konferensi Islam)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konflik yang terjadi di Timur Tengah selama bertahun-tahun, tepatnya konflik antara Israel dengan Palestina telah membuat negara-negara di dunia tepatnya negara Islam untuk mengamatinya. Kenyataan yang ada bahwa setelah perang dunia I, Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Yang mana Inggris saat itu memberikan kebijakan dengan membolehkan imigran Yahudi ke Palestina secara besar-besaran. Kemudian semenjak itu, pertikaian Yahudi dan Palestina semakin menjadi.
Setelah kemerdekaan Israel pada tahun 1948, umat Islam di Palestina semakin mendapatkan penganiayaan. Mereka mendapatkan teror dari kaun Yahudi, bahkan kaum Yahudi (Zionis) melakukan pemboikotan terhadap suplai makanan yang masuk ke Palestina. Sehingga umat Islam di Palestina mengalami kelaparan dan pada akhirnya sebagian mereka pergi meninggalkan negerinya. Pada awal kemerdekaan Israel, presiden pertamanya yaitu Chail Wezmann mengatakan bahwa negara Israel tidak ada batasnya, yakni batas negara akan disesuaikan dengan jumlah penduduknya. Sehingga tidak heran jika Israel selama ini selalu ingin memperluas wilayah mereka yang pada akhirnya menimbulkan peperangan yang tak kunjung selesai.
Dalam konflik yang tak kunjung usia ini, akhirnya muncul gagasan dari umat Islam untuk menggalamg kesatuan guna menciptakan perdamaian, tepatnya dalam dunia Islam. Dari gagasan tersebut akhirnya berdiri Organisasi Konferensi Islam (OKI).
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah brdirinya Organisasi Konferensi Islam ?
2.      Apa tujuan berdirinya Organisasi Konferensi Islam ?
3.      Bagaimana peran Organisasi Konferensi Islam dalam konflik di Timur Tengah ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Sejarah berdirinya Organisasi Konferensi Islam tidak lepas dari berbagai peristiwa di Timur Tengah mengenai umat Islam. Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina yang berlangsung lama dan tak kunjung selesai merupakan suatu hal yang bertali temali dengan gerakan Zionisme yang ingin mendirikan negara Yahudi di Palestina.[1] Kemudian setelah Israel merdeka pada tahun 1948, mereka gencar malakukan pengusiran warga Palestina. Bukan hanya sebuah pengusiran yang dilakukan Israel terhadap Palestina melainkan berbagai teror dan siksaan secara perlahan  agar rakyat Palestina meninggalkan tanah airnya.
Dengan berbagai konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina sampai pada perang yang terjadi dalam merebutkan kota al-Quds (Jerussalem) pada tahun 1967, kemudian memuncak dengan kaum Radikal Yahudi yang membakar masjid al-Aqsa pada 21 Agustus 1969, akhirnya kesadaran umat Islam menjadi bangkit, kemudian mengadakan konferensi tingkat tinggi (KTT) pertama di Rabat, Maroko pada bulan September 1969. saat itulah diresmikan berdirinya Organisasi Konferensi Ialam (OKI).[2] Diantara tokoh yang berperan penting dalam berdirinya adalah Raja Faisal dari Arab Saudi, dan Tuanku Abdul Rahman dari Malaysia.
Secara umum latar belakang terbentuknya OKI sebagai berikut :
1) Tahun 1964 : Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Mogadishu timbul suatu ide untuk menghimpun kekuatan Islam dalam suatu wadah internasional.
2) Tahun 1965 : Diselenggarakan Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah Saudi Arabia yang mencetuskan ide untuk menjadikan umat Islam sebagai suatu kekuatan yang menonjol dan untuk menggalang solidaritas Islamiyah dalam usaha melindungi umat Islam dari zionisme khususnya.
3) Tahun 1967 : Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel. Oleh karenanya solidaritas Islam di negara-negara Timur Tengah meningkat.
4) Tahun 1968 : Raja Faisal dari Saudi Arabia mengadakan kunjungan ke beberapa negara Islam dalam rangka penjajagan lebih lanjut untuk membentuk suatu Organisasi Islam Internasional.
5) Tahun 1969 : Tanggal 21 Agustus 1969 Israel merusak Mesjid Al Agsha. Peristiwa tersebut menyebabkan memuncaknya kemarahan umat Islam terhadap Zionis Israel.[3]
Dalam KTT OKI yang pertama di Maroko 1969 menegaskan, pemerintah dan rakyat negara-negara Islam menolak penyelesaian isu Palestina yang tidak menjamin kembalinya kota Jerussalem pada status yang semula sebelum tahun 1967 (perang Arab-Israel yang menyebabkan jatuhnya kota suci al-Quds ke tangan Israel).[4] kemudian dalam  KTT OKI yang ke-2 di Lahore, Pakistan tahun 1974 menegaskan bahwa Jerussalem adalah simbol pertemuan Islam secara damai dengan agama samawi lainya. Bahkan dikatakan bahwa Islam  telah menguasai  Jerussalem selama  1300 tahun, maka Israel harus mundur dari Jerussalem sebagai  syarat terciptanya perdamaian yang abadi di Timur Tengah.
Dalam berbagai KTT yang dilaksanakan OKI memang tidak lepas dari permasalahan Timur Tengah, seolah-seolah OKI hanya dibentuk untuk Timur Tengah. Kesan tersebut tidak dapat dipungkiri sepenuhnya, karena    Salah satu persoalan dan kemelut dunia yang menjadi perhatian masyarakat internasional terjadi dikawasan Arab dan Timur Tengah. Sedangaka dalam OKI sendiri persoalan Timur Tengah dan Palestina terlihat lebih menonjol karena terkait di dalamnya pembicaraan dan desakan yang bernafaskan kepentingan agama dan umat Islam seluruh dunia. Perlu diingat bahwa hampir separuh dari negara anggota OKI adalah negara-negara Arab.[5]
B.     Tujuan Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Organisasi Konferensi Islam (OKI) sejak  awal berdiri mempunyai beberapa tujuan. Dengan melihat latar belakang berdirinya maka dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari OKI adalah masalah Jerussalem, karena hampir dalam setiap konferensi yang dilakukan, masalah Jerussalem tidak pernah lepas dari pembahasan. Akan tetapi tujuan OKI bukan semata tentang Jerussalam melainkan juga masalah lain yang diantaranya :
1.      Menggalang solidaritas Islam dikalangan para anggotanya.
2.      Konsolidasi dan kerjasama dikalangan para anggotanya di bidang-bidang ekonomi, sosial, budaya, iptek, dan bidang-bidang lainya.
3.      Melakukan konsultasi dan kerjasama negara-negara anggota diberbagai organisasi internasional.
4.      Mengeliminasi diskriminasi rasial dan kolonialisme dalam segala bentuknya.
5.      Mendukung perdamaian internasional dan terciptanya tatanan politik internesional yang adil.[6]
6.      Memberi semangat dan dukungan kepada rakyat Palestina dalam memperjuangkan haknya dan kebebasan mendiami daerahnya.
Pada dasarnya OKI bertujuan untuk menciptakan perdamaian dan keamanan dunia muslim secara garis besar dan memperkokoh solidaritas Islam antar negara anggotanya.
Dalam menjalankan kebijakan, keputusan, dan langkah-langkah OKI di bidang tertentu maka  dibentuk suatu komite, yaitu :
1.      Komite al-Quds;
2.      Komite tetap bidang keuangan;
3.      Komite Islam untuk masalah-maslah ekonomi, social, dan budaya;
4.      Komite kerjasama ilmu pengetahuan dan teknik;
5.      Komite kerjasama ekonomi dan perdagangan;
6.      Komite kerja untuk masalah-masalah informasi dan kebudayaan.
Selain keenam komite khusus tersebut, OKI juga membentuk organisasi-organisasi dan lembaga yang bergerak dibidang ekonomi dan pembangunan, yaitu :
1.      Bank Pembangunan Islam (IDB),
2.      Kamar dagang, Industri dan pertukaran komoditi negara-negara Islam,
3.      Yayasan Islam bagi ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan,
4.      Pusat Islam bagi riset dan latihan, teknik dan kejuruan,
5.      Pusat Islam bagi pembangunan dan perdagangan,
6.      Dewan penerbangan sipil Islami, dan
7.      Asosiasi pemilik kapal Islami.[7]

C.    Peran Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam Konflik di Timur Tengah.
Sampai pada tahun 2005 OKI telah mengadakan KTT sebanyak 11 kali. Akan tetapi dalam perkembanganya OKI dianggap kurang responsife terhadap konflik atau permasalahan yang terjadi. Sehingga dikatakan bahwa OKI belum mampu menunjukkan dirinya sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia internasional. Pada dasarnya kurang maksimalnya peran OKI dalam menyelesaikan maslah yang tumbuh di Timur Tengah dikarenakan masalah dari anggota OKI sendiri. Yang mana rasa persatuan dari organisasi ini, diantara para negara anggota masih saja kurang terjalin.  Akan tetapi secara umum kendala yang dialami OKI sehingga krangnya peran mereka yaitu :
1.      Adanya kepentingan nasional dikalangan anggota yang lebih mereka utamakan daripada kepentingan bersama.
2.      Kurangnya sikap fanatis mereka terhadap OKI.
3.      Ketergantungan terhadap negara-negara Barat. Baik secara politik, militer, maupun ekonomi. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri karena negara-negara Arab yang kaya dan menjadi sponsor dari OKI secara ideologis justru pro dengan Barat. Sehingga ketika terjadi benturan kepentingan anntara dunia Islam dengan Barat, OKI dengan sendirinya menjadi tidak berdaya.[8]
Meskipun peran dari OKI dalam memperjuangkan perdamaian di dunia, khususnya dunia Islam kurang maksimal, tapi OKI juga memiliki jasa yang tidak bisa dilupakan begitu saja terhadap penyelesaian konflik yang terjadi. Dalam usaha menyelesaikan berbagai konflik, OKI lebih berlatar belakang dengan jalan perdamaian, yakni dengan perundingan, penengahan, dan arbitrasi. Seperti dalam halnya reaksi OKI atas tindakan Israel yang melakukan serangan terhadap Palestina, negara-negara anggota OKI memutuskan untuk memutuskan hubungan diplomatic dengan Israel. Mereka menarik duta besar di Israel sampai kemudian terjadinya perdamaian. Dalam hal ini negara-negara Arab memiliki legitimasi politik untuk membekukan hubungan dengan IIsrael, menyusul perilaku keji Israel terhadap rakyat sipil Palestina yang jelas-jelas melanggar hak asasi manusia serta jauh dari semangat perdamaian.
Negara-negara Arab juga bisa memutuskan hubungan dengan Israel seperti dalam bidang budaya, wisata, ekonomi, serta memboikot perundingan multilateral. Hal-hal seperti ini dilakukan negara-negara OKI sampai proses damai dilakukan. Dalam artian tetap memilih jalan damai sebagai pilihan strategis dalam meyelesaikan masalah.[9]
Peran OKI dalam penyelesaian konflik juga terlihat dalam konflik yang terjadi antara Israel dengan Lebanon. Yang mana dalam hal tersebut OKI melakukan KTT yang memutuskan tentang perdamaian dan genjatan senjata bagi kedua belah pihak dan juga berhasil memaksa DK PBB mengeluarkan deklarasi 1701 dan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian, dimana OKI juga turut serta dalam pasukan tersebt).







BAB III
PENUTUP
Simpulan
Organisasi Konferensi Islam (OKI) berdiri atau dibentuk pada tahun 1969 di Rabat Maroko. OKI berdiri dilatar belakangi beberapa sebab diantaranya adalah konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina. Yang mana dalam konflik tersebut Palestina sebagai negara muslim mengalami penindasan dari Israel. Kemudian mencapai puncak pada tahun 1969 setelah Israel membakar masjid al-Aqsa, yang kemudian karena peristiwa tersebut maka dibentuk OKI.
OKI dibentuk dengan berbagai tujuan yang pada intinya untuk menciptakan perdamaian dan keamanan dunia muslim secara garis besar dan memperkokoh solidaritas Islam antar negara anggotanya. Dalam perjalanya sampai sekarang, peran OKI sedikit banyak telah membawa pengaruh dalam dunia Islam, terutama di Timur Tengah. Dalam menyelesaikan suatu masalah OKI dengan komitmenya dengan jalan perdamaian seperti dilakukan perundingan, penengahan, dan arbitrasi. Meskipun, terkadang dalam merealisasikan tugasnya OKI sering kali mengalami bebagai kendala, sehingga peranya sering kurang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Abd.Rahman, Mustafa. Jejak-JJejak Juang Palestina. Jakarta: Kompas. 2002.
Shihbudi, Riza. Menyandera Timur Tengah. Jakarta: Mizan. 2007.






[1] Mustafa Abd. Rahman, Jejak-JJejak Juang Palestina. (Jakarta: Kompa, 2002), Hlm. xxx.
[2] Ibid., Hlm. 177.
[4] Abd. RRahman, Jejak-Jejak….Hlm., 179.
[6] Riza, Shihbudi, Menyandera Timur Tengah, (Jakarta: Mizan, 2007),Hlm.,101-102.

[7] Shihbudi, Menyandera,… Hlm, 105.
[8] Ibid.,Hlm.,107.
[9] Abd. Rahman, Jejak-Jejak….Hlm., 212.